Wednesday, December 8, 2010

20 Ribu Orang Hadiri Suroan Gunung Kawi

WONOSARI- Ritual satu Suro di Gunung Kawi masih menjadi magnet tersendiri bagi
para peziarah. Ratusan pengunjung memadati ritual tahun baru dan penghormatan kepada Eyang Kiai Zakaria II atau Eyang Jugo yang berisi  pawai Jolen dan Ogoh-ogoh tersebut. Yang istimewa, tahun ini jumlah pengunjung meningkat drastis, tahun lalu hanya 15 ribu, kemarin mencapai 20 ribu orang lebih.
Namun ritual itu belum selesai, karena 12 hari lagi akan diadakan selamatan sebagai penghormatan terhadap Raden Mas Iman Soedjono, atau Eyang Sujo yang meninggal tanggal 12 Sura 1805 atau 8 Februari 1876. Sebagai ritual pembuka, Satu Suro di Gunung Kawi memang yang paling menarik minat para pengunjung. Sehingga demi kenikmatan pengunjung, kali ini pihak Panitia Ritual satu Suro berusaha menyuguhkan tontonan terbaik.
Pawai itu diikuti 14 kelompok RW di Desa Wonosari lengkap dengan Jolen dan barisan wanita pembawa terbang. Selain itu ada satu barisan Pramuwisata Gunung Kawi serta yang paling ditunggu adalah kirab dan pembakaran ogoh-ogoh atau patung raksasa simbol angkara murka atau Kala.


Panitia menghabiskan dana tak kurang Rp 150 juta, diantara satu Jolen habis Rp 10 juta dan pembuatan ogoh-ogoh mencapai Rp 15 juta. Ini adalah ritual massal, setiap penduduk Gunung Kawi seperti memiliki kewajiban moral untuk memeriahkannya. Maka RW beserta warganya berduyun-duyun memberikan hiburan dengan turun ke jalan.
Ibu-ibu tanpa malu-malu memakai kebaya, bahkan mayoritas membawa terbang sambil menari di sepanjang jalan. Ini adalah budaya kolosal yang memadukan tradisi Cina, Jawa serta seni tradisi masyarakat Jawa secara umum. Simak saja pengakuan seorang wanita Gunung Kawi yang rela berpeluh menempuh jalan mendaki sekitar 1,5 km. “Saya ikut ini sukarela, agar makin guyub, agar ritual ini makin meriah dan menyenangkan pengunjung dan peziarah,” tutur Mariam (35 tahun) warga Dusun Sumbersari RW 9 Desa Wonosari Kecamatan Wonosari kepada Malang Post, kemarin.
Di pihak panitia tak kalah serius, tahun ini, panitia juga menampilkan budaya lokal Kabupaten Malang, yakni Tari Topeng.Agar acara berjalan lancar, ratusan orang warga Gunung Kawi juga dilibatkan mengamankan jalannya ritual. Pihak panitia bahkan rela merogoh kocek Rp 3 juta. Duit itu ternyata digunakan untuk menyewa jasa pawang hujan.
Namun entah karena kurang sakti atau apa, nyatanya hujan tetap mengguyur kawasan Gunung Kawi sekitar pukul 14.30. Kendati demikian tetap tak mengurangi meriahnya pelataran bekas Kuil Dewi Kwan Im yang menjadi tempat membakar ogoh-ogoh. Dengan berbagai cara, pengunjung berlomba melihat ritual puncak itu, naik tembok hingga bertengger di pohon.
Kepala Desa Wonosari, Kuswanto mengatakan pembakaran ogoh-ogoh tetap dilangsungkan di bekas Kuil Kwan Im yang terbakar. Rencananya, lokasi itu akan dijadikan tempat terbuka untuk menggelar berbagai acara. Sedangkan, kuil yang baru akan dibangun disisi barat bekas lokasi kebakaran. “Kebakaran kuil Kwan Im itu menyebabkan kami menderita kerugian Rp 4,5 miliar, tahun 2011 akan dibangun lagi dari berbagai sumbangan dan menelan dana tak kurang dari Rp 5 miliar,“ terang pria ramah ini.
Nantinya, patung Kwan Im akan dibangun lebih besar, tapi tingginya hanya enam meter. Ketinggian patung tentu saja menurun, karena dulunya Kwan Im Gunung Kawi adalah yang tertinggi di Asia Tenggara. Kata Kuswanto, patung yang baru tetap mendapat suntikan dana dari keluar bos BCA Liem Sie Liong, serta Antony Salim maupun Bogasari. “Ritual ini membawa dampak ekonomi yang besar, saat ini kami optimis Gunung Kawi bakal lebih ramai, apalagi karena masuk dalam paket wisata Wali Songo,“ tegasnya.
Pantauan Malang Post, luberan pengunjung memang luar biasa pada tahun ini, tampak dari kemacetan lalu lintas. Bahkan parkiran pengunjung pun meluber hingga selatan terminal Wonosari. Itu diakui Sunardi, salah satu pengelola parkiran di Dusun Wonosari Desa Wonosari. “Baru tahun ini parkirannya sampai di sekitar rumah saya, ini lahan milik tetangga, nanti akan dibagi 25 persen dengan pemilik,“ akunya kepada Malang Post.
Sementara itu, Bupati Malang H Rendra Kresna, yang membuka Kirab Budaya Satu Suro itu mengatakan, Gebyar Suroan ini merupakan budaya masyarakat Kabupaten Malang, khususnya masyarakat yang berada di wilayah wisata religi, Gunung Kawi di Desa Wonosari. “Ini secara tidak langsung sebagai media promosi untuk mengenalkan Kabupaten Malang. Kami mengharapkan, agar gelar kirab budaya ini tetap dilestarikan dan dipertahankan. Karena nilai budaya ini tidak bisa diukur dengan apapun, sehingga diperlukan kerja keras supaya anak-anak muda mau melestarikan budaya leluhurnya,” tutur Rendra.
Terpisah, Pengurus wisata religi Gunung Kawi Nanang Yuwono juga mengatakan, seperti tahun-tahun sebelumnya, Kirab Budaya Satu Suro ini dimulai dengan kirab pasukan pembawa uborampe, pasukan tumpeng, serta sejumlah warga yang berdandan bak raksasa. Simbol ogoh-ogoh yang pada akhir acara nanti dilakukan pembakaran, bermaksud membunuh dan memberangus sifat keangkara murkaan manusia. Sehingga, masyarakat Desa Wonosari dan sekitarnya bisa terhindar dari segala macam keangkara murkaan, serta selalu dekat pada Allah SWT. “Kirab Budaya Satu Muharram ini menyambut datangnya tahun baru Islam atau masyarakat jawa menyebutnya Suroan,” terangnya.

0 komentar:

Post a Comment

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP